Krisis Listrik Sumatera Utara, Mati Lampu Tiap Hari Itu Sudah Rutinitas

Juli 17, 2014

Pangkalan Susu, April 2014

 

Perjalanan darat dari Medan arah utara menuju Pangkalan Susu melewati jalur lintas timur Sumatra manyajikan pemandangan barisan kelapa sawit diselingi pemukiman warga di beberapa kecamatan yang dilaluinya. Sebagai pemanis perjalanan, ada warung kopi enak yang bisa disinggahi di tanjung pura atau kedai oleh-oleh dodol lokal yang bentuknya mirip pocong.

Gambaran geliat semangat kehidupan warga setempat inipun akan terganggu saat melewati jalanan ini di waktu malam. Pemandangan hangat hiruk pikuk kehidupanpun terasa jadi gelap. Ya, gelap secara harfiah. Penyebabnya mungkin telah jamak pula diketahui, kalau headline di surat kabar menyebut “krisis listrik Sumatra Utara”. Hal yang menyebabkan pemadaman listrik bergilir secara rutin.

Dalam perjalanan yang gelap inipun langsung terpikir, “bagaimana ya nasib anak-anak disini yang besok pagi menghadapi Ujian Nasional? Berarti malam begini nggak bias belajar dong. Apa mereka bisa maksimal mempersiapkan diri untuk menghadapi ujian dengan fasilitas yang nggak mendukung?” yah walaupun kalau dipikir nggak mutlak juga gegara mati lampu terus jadi nilainya nol. Setidaknya bikin jadi terpikir, masak masa depan anak-anak disini harus terganggu gegara kurangnya pasokan listrik.

Perjuangan untuk Menerangi Masa Depan

Contoh diatas cuma masalah kecil dari kurangnya listrik di Sumatra Utara ini, di Medan, sebagai kota terbesar ketiga di Indonesia pasti masalah kebutuhan energi ini lebih pelik lagi, akibatnya pertumbuhan ekonomi daerah Sumatra utara jadi terhambat karena kebutuhan yang terus meningkat tidak bisa diimbangi suplai energinya.

 

Garis Besar Supply-Demand Elektrifikasi Sumatera Utara

Beban puncak pada sistem kelistrikan Sumut bagian utara sebesar 1.650 MW, namun kapasitas terpasang hanya 1.550 MW dan pertumbuhan permintaan elektrifikasi Sumatra utara mencapai 7.3% per tahun. Pasokan listrik ke sistem Sumatera Bagian Utara ini sebagian disuplai dari pembangkit berbahan bakar gas yaitu PLTGU Belawan/Sicanang dengan kapasitas (400 MW + 370 MW), PLTU Belawan/Sicanang (2 x 65 MW), PLTG Paya Pasir 20 MW dan PLTG Gelugur 40 MW, dan PLTA Asahan milik Inalum (90 MW).

PLN telah mengusahakan penyewaan generator diesel sejak tahun lalu agar mendapat tambahan 150 MW, namun sampai akhir tahun hanya dapat memberikan 20 MW tambahan, dan sampai pertengahan 2014 masih diusahakan penambahan generator secara bertahap.

Padahal, pasokan listrik harus mempunyai punya cadangan pasokan sebesar 30-40% (kapasitas sebesar 2.000 MW) untuk menghindari pemadaman jika ada gangguan. Namun dengan keadaan yang ada di Sumatera Utara, untuk mengatasi kondisi kelistrikan masyarakat, diatur dengan pengurangan pemakaian industri.

 

Rencana Mengatasi Defisit Listrik

Secara regional, daerah sumber energi domestik Sumatra Utara untuk pembangkit listrik memang langka jika dibandingkan dengan kebutuhannya, sehingga sumber energy-nya harus “diimpor” dari daerah lainnya. Terisolasinya daerah Sumatera Bagian Utara ini, karena minimnya jaringan transmisi dari daerah selatan, serta lambatnya pembangunan pembangkit listrik membuat sulit untuk menambah pasokan listrik.

PLN Berharap, pembangkit listrik Asahan yang dimiliki oleh PT Indonesia Asahan Aluminum (Inalum), dapat meningkatkan outputnya menjadi 135 MW. Selain itu, penyelesaian sejumlah proyek pembangkit listrik di Sumut juga terlambat. Diantaranya PLTU Sarulla berkapasitas 350 MW, PLTU Kuala Tanjung berkapasitas 170 MW, dan PLTU Labuhan Angin Sibolga 200 MW. Pernyebabnya antara lain, masalah kontraktor, pendanaan dan pembebasan lahan.

Ah, saat jalan-jalan di Pangkalan Susu ini pula tak lupa melihat dari jauh harapan Sumatera Utara untuk mengakhiri masa black-out, yaitu PLTU Tanjung Pasir. Rencana Pembangunan PLTU tersebut adalah 4 unit, dengan unit 1 dan 2 bertenaga batubara, serta unit 3 dan 4 akan ditenagai gas alam. Total pembangkitan adalah 4×200 MW. PLTU yang mulai digarap dari 2008 sebenarnya sudah merampungkan unit 1 & 2, namun sampai sekarang belum on-line karena terkendala masalah pembangunan transmisi listrik. Ah masalah klasik, pembebasan lahan. Walaupun akhirnya saat ini konstruksi sudah selesai dan sedang dalam fasa uji tegangan.

PLTU Tanjung Pasir, Pangkalan Susu (http://id.geoview.info)

Pembangunan pembangkit listrik ke depan akan lebih difokuskan menggunakan energi gas alam, sumber energi yang relatif bersih dan sumbernya banyak di Indonesia, tak luput I Sumatera Utara ini. Ga alam ini juga banyak dibutuhkan oleh industry selain PLN, yang karena supply gas alam yang langka cukup menghambat pertumbuhan ekonomi. Ada beberapa isu menarik tentang Floating Storage Regasification Unit (FSRU) Belawan yang terpaksa dipindah ke Lampung, rencana pembangunan transmisi LNG dari Arun ke Sumatera Utara (yang gasnya berasal dari daerah lain, dan harga gasnya akan “mengikuti hukum ekonomi”), pengembangan potensi lapangan-lapangan gas alam di Sumatra Utara. Tak Kalah menarik, adalah mulai disentuhnya potensi-potensi geothermal yang prospektif di daerah Tapanuli. Hal-hal menarik ini akan diteruskan pada tulisan selanjutnya (semoga masih ada waktu dan kesempatan, hehehe).

Iklan

Room to Read

Januari 26, 2014

room2read1

Buku yang menceritakan kisah John Wood, sang pendiri organisasi non-profit di bidang pendidikan bernama Room to Read. Buku ini adalah terjemahan buku asli berjudul “Leaving Microsoft to Change the World: An Entrepreneur’s Odyssey to Educate the World’s Childern”. Yap, dari judul asli berbahasa Inggrisnya langsung terlihat isi buku ini seperti apa.

Cerita diawali dengan sebuah kegusaran. Bagaimana seseorang eksekutif Microsoft menginggalkan kehidupannya yang mapan dan mempunyai kebebasan finansial menuju masa depan yang dirinya sendiripun tidak tahu akan seperti apa. Semua itu dilakukan untuk menemukan suatu kehidupan yang lebih bermakna untuk dirinya, bagaimana dirinya bisa berbuat sesuatu untuk dunia (terinspirasi oleh tulisan Dalai Lama dalam the Art of Happyness).

Cinta kepada gunung yang membawanya ke Himalaya, dan segala realita yang dia lihat di kehidupan pedesaan Himalaya membuatnya berpaling khawatir akan masa depan rakyat disana, yang membuatnya berjuang untuk membangun sekolah dan perpustakaan. Ya, cinta terhadap gunung bisa membuatmu cinta kepada anak-anak.

Hal yang sungguh hebat adalah bagaimana dia memainkan semua pengalaman dan ilmu bisnisnya selama berkarier di Microsoft. Sehingga, lompatan kehidupannya dari seorang eksekutif menjadi CEO organisasi nirlaba bukanlah dua dunia berbeda, tapi ada dalam satu garis lurus kehidupannya.

Beberapa aplikasi pengalaman yang dia mainkan adalah:

  • Membentuk jaringan relawan donatur yang dimulai dari rekan-rekannya yang memang mempunyai kekuatan finansial.
  • Menjaga ongkos organisasi tetap rendah dan memberi laporan rutin agar donator tau uangnya itu benar digunakan untuk menjalankan proyek.
  • Sistem modal bersama oleh donatur dan desa setempat, hal ini dilakukan supaya ada kepemilikan terhadap instrument pendidikan yang didirikan di daerah tersebut.

Di awal bukunya, John menulis persembahan untuk orang tuanya yang telah mengajarinya untuk mencintai pendidikan, mengambil resiko, percaya kepada diri sendiri, dan melayani orang lain. Etos itulah yang membuat Room to Read dapat berjalan. Namun yang paling penting adalah, pengejaran terhadap lentera jiwa akan membuat seseorang nyaman dan rela melakukan usaha maksimal untuk mewujudkannya.

“pelajaran penting lainnya adalah bahwa segera setelah kami menyatakan sebuah tujuan yang berani, ribuan orang berkumpul di sekeliling tujuan tersebut”

http://www.roomtoread.org/

Grave of the Fireflies (1988)

Desember 15, 2013

Salah satu film yang mengubah paradigma gw tentang film kartun. Tentang bagaimana film kartun bisa dengan sempurna menceritakan sebuah film yang kelam, berbeda dengan ekspektasi selama ini dimana film kartun itu cenderung ceria dan happy ending.

Salah satu film bertema perang yang gw paling kagumin. Bukan tentang aksi heroik para tentara di garis depan medan perang, tembak menembak beradu teknologi senjata, dan strategi tempur demi berkibarnya bendera nasionalnya. Namun, sisi lain dari perang, tentang dua orang bocah yang terkena dampak api perang yang makin melebar. Tentang bagaimana kedua bocah ini mencoba bertahan hidup setelah rumah, harta, bahkan orang tuanya hilang ditelan perang.

Kisah yang sangat humanis, perjuangan anak kecil berjuang demi makanan dan tempat tinggal untuk bertahan hidup. Kisah yang sederhana, dasar, tapi menyentuh. Setting yang diangkat masa Perang Dunia II, disaat Kota Kobe di jatuhi bom habis-bahisan oleh pesawat pesawat sekutu. Adalah Seita, seorang anak lelaki 13 tahun yang harus menghidupi adiknya, Setsuko yang masih berusia 5 tahun, yang harus berjuang hidup sendiri setelah ibu mereka tewas karena bom dan ayahnya pergi berperang. Sang kakak-pun harus bertransformasi secara cepat dari seorang bocah anak seorang marinir menjadi seorang ayah dan ibu sekaligus demi adiknya. Yang paling besar adalah bagaimana kaka adik ini tetap menyalakan harapan untuk hidup dan mempunyai masa depan, di tengah kondisi perang yang sulit.

Kisahpun ditutup dengan kegagalan sang kakak menghidupi adiknya, ya sang adik meninggal. Cerita ini berdasarkan otobiografi semi-novel dari nama yang sama (di publikasikan tahun 1967), Penulisnya Akiyuki Nosaka, yang kehilangan adiknya akibat kekurangan gizi  di masa perang pada tahun 1945. Dia menyalahkan dirinya sendiri karena kematian saudaranya, untuk membantunya menerima tragedi itu, kemudian ia menulis cerita ini sebagai penebus kesalahan.

Hal lain yang dikagumin adalah gambar animasinya yang rapih, walaupun itu buatan tahun 1988, yah, seperti kartun-kartun jaman sekarang saja. Entah, dari format animasi ini kesan nyatanya sangat muncul. Dari bahasa tubuh khas jepang yang menonjol, setting kota dan alam yang natural, wajah kartun yang khas. Sepertinya format kartun memberi kebebasan sang kreator untuk berkonsentrasi pada esensi, dan membebaskan penonton untuk berimajinasi. Hasilnya, emosi yang ingin disampaikan mengena ke penonton.

Untuk resensi film lengkapnya tidak dibahas disini, karena sudah menemukan beberapa blog yang membahas resensi film ini, diantaranya:

http://athamiri.wordpress.com/2011/10/18/film-grave-of-the-fireflies-hotaru-no-haka-2008/

http://yuliduryat.wordpress.com/2012/09/14/grave-of-the-fireflies/

Kebun Raya Cibodas: (Masih) Surga Dunia di Dekat Jakarta

Oktober 9, 2013

Minggu, 7 September 2013

Berangkat  sejauh 85 km tenggara, 1300-an meter elevasi dinaikkan dari kota pantai Jakarta. Tiba di kawasan Taman Nasional Gunung Gede-Pangrango, bukan buat mendaki Gunung Gede. Pun tak kalah menawan dari puncak si gunung, daerah Cibodas ini terdapat Kebun Raya Cibodas (Kebun Raya Cibodas). Taman yang asalnya ditujukan pemerintah Belanda sebagai kebun kina, saat ini menjadi salah satu surga bagi para botanist, dengan 10.792 koleksi tanaman, 700 jenis koleksi biji, dan 4.852 koleksi herbarium.

Peta Area Kebun Raya

Hal yang disalutkan di daerah Taman Nasional Gunung Gede-Pangrango adalah tata kelolanya yang bagus, tak heran produknya Kebun Raya Cibodas ini sangat rapi sebagai taman maupun perpustakaan-nya para botanist. Salut juga sama penjagaan edelweiss di atas gunung yang masih berkuantitas banyak.

Taman, bisa diartikan sebagai penguasaan manusia terhadap alam, dimana manusia dapat memanipulasi suatu lahan untuk dijadikan seperti apa yang dimau. Di satu sisi, taman juga dapat dilihat sebagai bentuk pendekatan alam ke ruang kegiatan manusia. Menurut saya, disini kombinasi kedua definisi taman tersebut dapat dilihat dengan hasil yang positif: rapinya perawatan rumput dan taman, penanaman berbagai jenis botani, ruang koleksi tanaman langka, dan lanskap alami yang menawan, air terjun yang merupakan ciptaan alam, dan tumbuhan-tumbuhan besar dataran tinggi, dan juga sakura serta bunga bangkai.

Hamparan rumput yang rapi (source: http://www.pbase.com/eandyh)

Pepohonan tinggi di pinggir jalan setapak

Pepohonan tinggi di pinggir jalan setapak

LIPI sebagai pengelola taman ini juga dengan apik membuat dan merawat “perpustakaan” ini, dengan tagline mereka “Konservasi – Penelitian – Pendidikan Lingkungan – Pariwisata”. Yang paling melegenda adalah taman lumut, satu-satunya taman lumut luar ruangan di dunia dan tentu koleksinya terbanyak. Rumah kaca berisi kaktus dan anggrek, taman bunga bangkai, hutan paku-pakuan, bamboo, dan palem. Selain itu. Sayang ga tiap saat tempat-tempat itu dibuka buat pengunjung.

Taman lumut (source:1.bp.blogspot.com)

Satu lagi kelebihan Cibodas, tempat ini sangat mudah diakses bagi kami-kami yang tak mumpuni untuk memakai kendaraan pribadi kesana. Yap, dari jalur KRL yang sudah mengular di Jakarta, sampai angkot yang siap mengantar sampai ke mulut gerbang KRC ini. Walaupun harus gonta-ganti moda transportasi tapi lumayan kan ga harus jadi sopir ditengah melegendanya kemacetan daerah puncak.

Curug Ciismun

Tambahan, bawa makanan sendiri kalau perlu tikarnya juga, biar suasanya piknik di tengah hamparan rumput makin asyik. Ada sih sih kantin, tapi kok kurang sepertinya, hehehe. Taman yang rapi membuat para pejuang jalan kaki juga enak mengeksplorasi lanskap lahan yang luas dan naik turun.

Sabtu Inspiratif: Festival Gerakan Indonesia Mengajar

Oktober 8, 2013

Sabtu, 5 Oktober 2013

Travel dari bandung berangkat pukul 7 pagi, meninggalkan suasana bandung yang sejuk dan lengang pagi itu, meninggalkan semua kenyamanan kota bandung. Tujuan kali ini adalah Econvention Hall, Ancol. Tidak lain tidak bukan buat mengunjungi Festival Gerakan Indonesia Mengajar (FGIM) yang diadakan pada 5-6 Oktober 2013. Perjalanan tidak seindah yang dikira, dari pool travel, lanjut busway, masuk ancol, dan berjalan ke venue acara, tiba pukul setengah 3 sore, menghabiskan waktu perjalanan total 7 jam, dengan suasana yang panas berdesak-desakan dan penuh keringat pasti. Memang berat dan sulit di akses kalo ga punya kendaraan pribadi, dan pasti memakan waktu. Tapi ditengah keluhan itu masih bisa disyukuri, perjalanan ini memang ga seberat yang ditempuh para pengajar muda-nya IM buat mencapai tempat bertugas dan menjalani hidupnya disana.

Image

Janji yang diambil saat induction, “Saya Siap Kerja Bakti untuk Negeri!”

Melihat tulisan Mahesa Bimo, dalam acara ini ada 10 wahana yang dapat dipilih untuk melakukan kegiatan kerja bakti. Wahana-wahana tersebut dirancang untuk memberikan pengalaman langsung dalam melakukan aksi nyata. Berikut daftarnya:

  1. Kotak Cakrawala. Di wahana ini, relawan diminta ikut membantu proses pengepakan buku bacaan. Ada 60.000 dari berbagai kategori yang akan dikemas dalam ribuan kotak, dan akan dikirimkan ke 17 kabupaten.
  2. Kartupedia. Relawan diajak untuk menyusun dan menuliskan informasi di balik kartu-kartu yang bergambarkan hal tematik tertentu sebagai sumber referensi. Kartu ini adalah bentuk sederhana dari ensiklopedia.
  3. Kepingpedia. Relawan diajak untuk menggambar, mewarnai, dan/atau menyusun sebuah permainan keping puzzle.
  4. Surat Semangat. Relawan diminta untuk mengirimkan surat atau kartu pos kepada guru dan/atau siswa-siswa di desa-desa penempatan Pengajar Muda, dengan menuliskan nama dengan alamat lengkap dirinya.
  5. Kemas-Kemas Sains. Relawan diajak untuk mencari bahan-bahan yang dapat digunakan di dalam kelas sains.
  6. Teater Dongeng. Relawan diminta untuk memperagakan drama kepahlawanan atau dongeng pendek, yang kemudian akan direkam, disunting, dan dikirimkan ke daerah.
  7. Melodi Ceria. Relawan diminta untuk menyumbangkan suaranya yang kemudian direkam sebagai video, dan dikirim ke daerah penampatan Pengajar Muda.
  8. Sains Berdendang. Relawan diajak untuk menyanyi sebuah lagu parodi pelajaran yang ada, atau lagu gubahannya sendiri, lalu direkam dan dikirim ke daerah penempatan Pengajar Muda.
  9. Video Profesi. Relawan akan diundang untuk berbagi cerita tentang profesi masing-masing selama 15-20 menit.
  10. Aula Sekolah. Merupakan wahana relawan FGIM, di mana semua orang dapat berjejaring dan bertukar ide-ide kreatif yang dapat dilakukan untuk pendidikan di Indonesia.
Image

Membuat Peraga Sains di Warung Sains

Menariknya dari wahana yang disusun adalah mindset kerja bakti dan kontribusi buat orang lain disusun dengan metode yang menyenangkan untuk dijalani relawan. Yang paling luar biasa buat saya kotak cakrawala, awalnya pasti mikir, apasih ini gepak buku pasti ga menarik, ga pake otak, nah dengan metode dibuat lomba cepet-cepetan jadi sesuatu yang menarik dan perlu strategi kelompok. Kalau yang lain mah memang menarik sesuai talenta, ga usah banyak dikomentari, hehe.

Image

Kotak Cakrawala siap diterbangkan ke pelosok

Satu lagi yang menarik, peserta yang dating kesini memang niatnya bagus, jadi diajak kerja juga semangat dan bias saling menginspirasi. Apa coba niatnya sudah susah pergi ke ancol bayar 45 ribu pula. Sempet tanya memang banyak yang cuma iseng sih, tapi tetep semangat bekerja dan memberi inspirasi.

Image

Booth Surat Semangat Relawan

Image

Mari menulis untuk mereka di FakFak

Setelah ngobrol-ngobrol cari info saya simpulkan kalau yang diharapkan dari festival GIM ini adalah sebagai warga tahu keadaan pendidikan bangsa sendiri dan memberikan inspirasi cara nyata untuk berkontribusi. Jelas tujuannya bukan untuk “menarik” minat orang supaya ikut daftar menjadi Pengajar Muda lewat organisasi IM, apalagi jangan dulu curiga ini acara pencitraannya pak Anies buat melenggang di 2014. Lebih dari itu. Tapi lebih ke bagaimana setelah acara ini ada inspirasi kepada orang lain untuk berkontribusi buat pendidikan di Indonesia, dengan cara apapun yang kita bisa, sesuai talenta dan kemampuan masing-masing. Tentu mengajarkan sesuatu yang kita pahami dan sukai akan memberikan transfer ilmu yang lebih baik.

Image

Anak-anak Indonesia

Terus, berkontribusinya ga harus ke daerah pelosok juga loh, hal yang paling simple kita lihat di kota sekalipun masih banyak anak yang ga mau sekolah atau terpaksa ga bisa sekolah karena berbagai latar belakang keadaan. Maka jangan kan kalau banyak KPK selalu hangat di berita tivi dengan kasus korupsinya, atau ada berita tentang pengemis bergaji lebih dari manajer yang tetap mengemis padahal sudah punya rumah atau barang-barang mewah. Jangan Cuma salahkan oknumnya, kalau kitapun nggak pernah ikut berkontribusi mengubah dan menjaga pemikiran dan mental orang sekitar kita.

Nah intinya disini bagaimana kita bisa menyalakan lilin di sekitar kita, nggak harus besar. Jangan mengutuk kegelapan doang. Menyalakan lilin disini ga berarti harus di bidang pendidikan kan, masih banyak hal lain yang bisa dijadikan ladang amal.

Indonesia Mengglobal: Pursuing US Higher Education

September 10, 2013

Jakarta, August 24th 2013

Diselenggarakan oleh @america di Pacific Place. Tempat yang memang sering mengadakan event-event talkshow asik, hehe. Misi hari itu karena iseng dan masih gelap meneruskan kuliah S2. Point dari talkshow yang saya tangkap disini memang lebih ke motivasi dan langkah dasar melanjutkan kuliah secara mengglobal.

Image

There was 5 points which could be captured from the speakers. There are:

  • What do you want to do? Ini adalah hal fundamental dalam memutuskan mengambil pendidikan tingkat lanjut. Intinya, kita harus tahu dahulu bidang yang ingin kita pelajari, secara spesifik, misal bidang perminyakan, ingin mendalami pengeboran, untuk aktivitas geothermal. Patut juga visi tersebut dikaitkan dengan prospek aplikasi di masa depan, percuma kan kita belajar sesuatu tapi kita sendiri tidak tahu untuk apa keahlian tersebut kita gunakan.
  • Research. Setelah menetapkan pilihan bidang studi dan bidang khusus yang yang ingin kita pelajari, kita harus mencari sebanyak-banyaknya info mengenai universitas yang mempunyai spesifikasi bidang yang ingin kita pelajari. Misal, kita ingin mendalami bidang hukum perkawinan adat Indonesia, tidak mungkin kan kita masuk ke Harvard, walaupun kita tahu sendiri kualitas Universitas tersebut di bidang hukum, namun untuk kekhususan yang ingin kita pelajari kita harus tahu, apakah professor di sana ada yang mempunyai kualifikasi tersebut. Apa jadinya bila kita masuk sebuah universitas dan kita tidak dapat belajar maksimal tentang bidang yang ingin kita pelajari?
    Berlaku juga untuk hal-hal teknis lain, apakah universitas menerima mahasiswa dengan latar belakang jurusan S1 yang berbeda? Misal bila engineer ingin mengambil philosophy, bagaimana pembiayaan dan program belajar di universitas tersebut, siapa professor yang berkompeten untuk membimbing bila ingin menulis thesis, dan banyak hal lainnya.
    Informasi sekarang mudah didapat di dunia maya. Mulai mencari di website universitas bersangkutan, melalui komunitas pelajar, forum professional bidang tertentu atau yang lain.
  • Prepare. Persiapan yang kita lakukan meliputi bidang teknis dan non teknis. Setelah visi belajar jelas, kita harus mempersiapkan materi agar kita dapat masuk ke suatu Universitas, kalau di Amerika kita harus lolos GRE, GMAT dengan skor tertentu, atau kualifikasi TOEFL dan IELTS tertentu. Dari research, kita mengetahui kebutuhan kualifikasinya, sehingga harus benar-benar dipersiapkan.
  • Persiapan lain yang penting adalah surat rekomendasi. Surat rekomendasi menjadi lebih berbobot saat perekomendasi memberi rekomendasi karakter yang lebih personal. Hal ini kita dapatkan bila kita pernah melakukan kegiatan professional dengan pemberi rekomendasi. Agak kurang berbobot bila rekomendasinya kurang personal walaupun pemberi rekomendasi orang yang super terkenal. Strateginya, carilah bidang  pekerjaan strategis yang memungkinkan kita bersentuhan dengan calon perekomendasi yang dipandang.
  • Don’t be shy. Tipikal orang Indonesia, rendah hati. Hal tersebut menjadi merugikan saat menulis essay atau motivation letter. Dalam essay tersebut kita diharuskan “menjual diri” agar para assessor yakin bahwa kita mempunyai kualifikasi untuk belajar di Universitas mereka.
  • What next after graduated? Masih berkaitan dengan  point pertama. Apa sih yang bisa kita lakukan 10 atau 20 tahun mendatang dengan kemampuan kita. Usahakan untuk tidak hanya berpikir 2-3 tahun setelah lulus, misalnya mengejar MBA, oke skil dan link-nya sangat berguna untuk tahun-tahun awal berkarya, namun selanjutnya apa yang bias dikembangkan dari situ? Ini harus direncanakan juga.

Masih banyak dari kita berpikir, S2 di luar negeri biayanya dari mana? Kalau sudah diterima tapi scholarship belum didapat berarti percuma karena tidak bias membiayai sendiri? Karena frame itu, akhirnya kita masih fokus ke pembiayaan tersebih dahulu daripada masuk Universitas-nya terlebih dahulu. Disini point yang harus kita tanam adalah, Letter of Acceptance ke sebuah Universitas itu memudahkan mencari scholarship atau sponsor untuk kuliah kita, baik dana dari dalam atau luar negeri. Hal yang ditekankan pembicara, ambil saja scholarship dari dalam, karena biasanya ada perjanjian kembali ke Indonesia, karena kalau mengambil dari luar besar kemungkinan untuk “menghilang”disana.

Bilapun dana belum kita dapatkan sampai waktu kuliah dimulai, kita biasanya masih bisa menunda memulai kuliah untuk tahun depannya, yang bisa kita manfaatkan waktu lebih itu untuk fokus ke pendanaan.

Greenland, Saat Permukaan Es yang Selama Ini Menutup Sumber Daya Buminya Mencair

Juli 9, 2013

Greenland, Negara di bawah pendudukan Kerajaan Denmark yang baru mempunyai pemerintahan sendiri pada 1999 ini ternyata cukup menarik. Sedikit mencari info setelah beberapa hari lalu melihat siaran BBC bernama “Arctic with B. Parry” tentang pergeseran kehidupan tradisional ke yang lebih modern orang Inuit, penduduk pulau terbesar di dunia, Greenland. Transisi ini terjadi karena efek Global Warming. Apa hubungannya? Global Warming mencarikan permukaan es daerah artik, akibatnya akses daerah Greenland lebih terbuka dengan dunia luar dan adanya ancaman terhadap kehidupan hewan di artik. Penjelasan di bawah ini sebagian besar bersumber dari buku “Governance of oil, gas and mining development in Greenland and the Arctic”.

Nuuk, ibukota Greenland (Source: Reuters)

Ancaman terhadap lingkungan liar artik adalah efek buruk global warming. Perlindungan terhadap hewan-hewan yang terancam punah pun menjadi lebih ketat, terutama pada paus, beruang, dan anjing laut. Masalahnya adalah kehidupan tradisional masyarakat Inuit bertumpu pada budaya memancing dan berburu, dan ketiga hewan tersebut adalah tangkapan utama yang bernilai ekonomi. Frekuensi penangkapanpun dikurangi oleh pemerintah Greenland atas desakan organisasi-organisasi lingkungan dan dunia internasional. Ditambah meningkatnya jumlah penduduk akibatnya jumlah tangkapan per orang menjadi sedikit, sehingga masyarakat tradisional harus bertahan di tengah biaya hidup di daerah ujung dunia ini yang sangat tinggi.

Akses lebih terbuka dengan dunia internasional, masuknya globalisasi, membuka kesempatan ekonomi baru di Greenland. Setelah ekonomi hanya disokong oleh perikanan, berburu, turisme, dan subsidi pemerintah Denmark, kini perut bumi Greenland menunjukkan potensinya setelah permukaan es setelah 20 meteran mencair, ditemukaannya potensi mineral, minyak, dan gas alam yang besar. Pengembangan sektor ini penting untuk mandiri secara ekonomi dan “membeli” kemerdekaan penuh dari Denmark. Terlebih masyarakat yang terjepit secara ekonomi melihat menjadi pekerja tanpa skill di industri tambang jauh lebih sejahtera daripada berburu yang modalnya semakin mahal.

Kegiatan pertambangan di daerah artik memang sudah dilakukan sejak abad 19. Cadangan mineral artik beragam, seperti molybdenum, lead, zync, gold, ruby, diamond, iron, platinum, titanium. Bahkan potensi logam tanah jarang, atau rare earth materials yang 95% produksinya dimonopoli Cina pun ada disini. Russia, produsen nikel dan palladium terbesar di dunia, serta nomor dua. Canada, salah satu produsen mineral dan metal besar di dunia, pendapatan dari intan sendiri sangat besar. Negara-negara skandinavia industry tambangnya sudah mature dan well developed. Bahkan Alaska, produksi utamanya pada seng, emas, perak, dan , sedang mengembangkan eksplorasi untuk logam tanah jarang.

Mining camp di Citronenfjord, Greenland (Source: polog.dk)

Greenland sendiri, walaupun sudah lama dilakukan penambangan tapi industri modern-nya masih dalam skala yang kecil, dan pemerintahnya sedang gencar untuk promosi internasional untuk eksplorasi tambang, sehingga sektor ini bisa menyumbang presentase ekspor yang lebih besar dari saat ini yang berkisar 10% (sisanya didominasi produk perikanan). Bahkan Cina menunjukkan fokus minat untuk menguasai logam tanah jarang di Greenland, karena Negara artik lain sudah ingin mengembangkan sendiri sehingga menutup pintu untuk Cina. Dengan industri skala kecil seperti saat ini penyerapan tenaga kerja bergantung pada harga mineral dan siklus produksi tambang.

90 milyar BOE (barrel oil equivalent) dan 1,67 triliun cuft (cubicfeet), estimasi hidrokarbon cair yang secara teknis dapat diekspliotasi daerah lingkaran artik, wilayah frontier terakhir di muka bumi, adalah hasil survey oleh US Geological Survey (USGS).  Dalam wilayah zona ekonomi eksklusif Greenland sendiri memiliki estimasi potensi 17 milyar BOE di lepas pantai barat dan 31 milyar BOE di sebelah timur laut, jumlah yang besar. Namun begitu, belum ada penemuan cadangan pasti di wilayah ini, sampai saat ini baru dilakukan survey seimic dan 6 pengeboran sumur eksplorasi yang berstatus dry hole. Masih banyak tantangan untuk mengembangkan industri ini, beberapa factor utama adalah kapasitas kemampuan nasional, tekanan organisasi lingkungan internasional, dan batas wilayah yang belum jelas.

Drilling rig Leiv Eiriksson in Greenland (Source: greenpeace.org)

Mengenai kapasitas nasional, hal ini mencakup kemampuan sumber daya manusia, pembiayaan, perumusan sistem industri migas nasional. Tidak ada cara lain untuk mengembangan industri  ini selain mengandalkan investor asing, Nuna Oil, perusahaan minyak nasional masih hanya bertugas untuk memberikan lisensi operasi eksploitasi pada investor, karena masalah sumber daya. Pemerintah juga masih terus merancang sistem yang dapat memberi keuntungan efektif dan berimbang antara ekonomi dan ekologi. Bagi investor, tantangan utama masih kendala mahalnya biaya karena ketidakpastian masih tinggi ditambah sulitnya medan operasi. Namun dengan semakin naiknya permintaan dan teknologi, kegiatan seperti ini akan semakin ekonomis, dapat dilihat pada Russia dan Norwegia yang industry minyak dan gasnya sudah mapan, bahkan Alaska dan Canada pun sudah berjalan dengan baik.

Batas wilayah yang disepakati adalah ZEE, 20 mil dari garis pantai. Padahal, potensi besar ada di luar zona tersebut, oleh karena itu setiap Negara pasti ingin mengklaim daerah tersebut. PBB dapat mensahkan suatu klaim melalui mekanisme tertentu, seperti wilayah Laut Barents, daerah perbatasan Norwegia-Russia yang akhirnya dimiliki Norwegia.

LSM lingkungan besar seperti WWF dan Greenpeace tentu mendebat keras adalah potensi perusakan lingkungan unik artik, dan berbagai upayapun telah mereka lakukan. Isu utama yang dihembuskan adalah oil spill yang mungkin terjadi saat operasi. Hal ini diperparah dengan kejadian teluk meksiko yang efek lingkungannya parah. Celakanya, penduduk pribumi tidak dapat diajak berkerjasama oleh LSM internasional tersebut, karena di satu pihak penduduk juga ditekan mengenai perburuan hewan.

Kampanye #SaveTheArctic dari Greenpeace (Source: greenpeace.org)

Walaupun begitu, pada eksploitas mineral hal-hal tersebut bukanlah masalah besar, sehingga industrinya lebih mudah bergerak. Pada lingkup masalah kliam perbatasan, karena cakupan wilayah kerjanya hanya memungkinkan dilakukan di darat, sehingga lingkupnya hanya nasional. LSM lingkungan juga tidak banyak yang berkonsentrasi pada ekslpoitasi mineral disbanding serangan pada bidang oil & gas.

Kepulauan Indonesia dan Pembangkit Listrik Energi Terbarukan Bernama OTEC

Juni 6, 2013

Lautan luas, puluhan ribu kilometer panjang bibir pantai, garis ekuator, dan guyuran sinar matahari sepanjang tahun. Artinya apa? Negeri yang panas, yang penduduknya terpisah pulau-pulau sehingga pengembangan negaranya menjadi sulit. Namun, dari semua faktor tersebut ada sebuah potensi energi yang dinamakan Ocean Thermal Energy Conversion (OTEC), yang di masa depan dapat dipertimbangkan untuk dikembangkan karena seharusnya disadari, negeri ini bukan negeri yang kaya sumber energi fosil dan masih saja menggantungkan kebutuhan energi dan devisa dari sektor ini.

Apa Itu OTEC?

Ocean Thermal Energy Conversion atau OTEC adalah metode pembangkitan energi listrik menggunakan perbedaan temperatur antara dasar laut dan perairan permukaan untuk menjalankan heat engines. Seperti pada umumnya mesin kalor, efisiensi dan energi terbesar dihasilkan oleh perbedaan temperatur yang paling besar, sesuai Hukum Kedua Termodinamika. Biasanya digunakan rule-of-thumb perbedaan temperatur 20°C untuk memastikan fasilitas OTEC dapat berjalan dengan baik. Tantangan terbesarnya adalah efisiensi heat engines yang masih dibawah 6% karena operasi ada pada perbedaan temperatur yang kecil, artinya lebih dari 90% energi panas yang di ekstraksi dari permukaan laut “terbuang”. Untuk pembangunan fasilitas pembangkitnya dapat dilakukan di darat ataupun dengan platform terapung di tengah laut, semakin jauh sumber energy dari garis pantai tentu biayanya akan semakin besar.

Image

Ilustrasi fasilitas offshore OTEC

Ada 3 jenis cyclic heat engines yang digunakan, closed-cycle, open-cycle, dan hybrid system.

1. Closed-Cycle (Siklus Tertutup):

Image

sistem closed-cycle

Adalah konsep pertama system OTEC. Untuk memperoleh efisiensi yang tinggi, maka working fluid yang digunakan memutar turbin guna membangkitkan listrik dalam fasa gas (sistem Rankin). Karena sulit untuk mendidihkan air laut dengan suhu permukaan maka pada closed-cycle system digunakan fluida dengan titik didih rendah (seperti ammonia atau Fluorocarbon refrigerants). Air hangat digunakan untuk mengevaporasi working fluid dan air dingin dari dasar laut digunakan sebagai condenser, sehingga tercipta kondisi perbedaan temperature yang akhirnya dikonversi menjadi energi kinetik pemutar turbin. Kekurangan system ini adalah heat exchanger model ini mahal, selain itu fluida pembangkit berkategori bahan berbahaya sehingga beresiko jika terjadi kebocoran sistem.

2. Open-Cycle (Siklus Terbuka):

Image

Untuk mengatasi kekurangan dari closed-cycle system, dikembangkanlah open-cycle dengan menggunakan air laut permukaan yang hangat sebagai working fluid untuk membangkitkan listrik. Air laut diberi kondisi vakum sehingga terjadi flash evaporation, uap inilah yang digunakan untuk memutar turbin. Kekurangan sistem ini adalah efisiensi mesin, kurang dari 0,5% massa air hangat yang dapat dievaporasi, sehingga dibutuhkan flow rates besar yang diakomodasi dengan komponen besar, namun tetap sistem ini memangkas ongkos mahal heat exchanger closed-cycle.

3. Hybrid System (Siklus Gabungan):

Siklus hybrid menggunakan keunggulan sistem siklus terbuka dan tertutup. Siklus hybrid menggunakan air laut yang diletakkan di tangki bertekanan rendah (vacuum chamber) untuk dijaikan uap. Lalu uap tersebut digunakan untuk menguapkan fluida bertitik didih rendah (amonia atau yang lainnya) yang akan menggerakkan turbin guna menghasilkan listrik. Uap air laut tersebut lalu dikondensasikan untuk menghasilkan air tawar desalinasi.

Keekonomian OTEC

Muhammad menjelaskan peluang investasi pengembangan energi laut cukup bersaing jika dibandingkan sumber-sumber energi terbarukan lainnya seperti tenaga air skala besar yang membutuhkan biaya 1.500 – 2.000 $/kW, mini/mikro hidro 1.000 – 2.000 $/kW, panas bumi 910 – 1.500 $/kW.

Biaya investasi belum bisa diketahui di Indonesia tetapi berdasarkan uji coba di beberapa Negara industri maju biaya investasi sebesar 4.000 – 10.000 $/kW dan harga listrik berkisar 7 – 15 sen /kWh. Nilai tersebut belum ekonomis mengingat regulasi PLN yang menetapkan harga beli listrik dengan rentang 7-9 sen/kWh. Bahkan ada literatur yang menyebutkan pengembangan skala kecil di rural area, yang merupakan tipikal pasar untuk OTEC ini, sebesar 30-60 sen/kWh. Tentu ini tidak menarik untuk ukuran Indonesia dengan status Negara berkembangnya dan ketergantungannya kepada fasilitas pembangkit listrik fosil yang lebih dulu mapan dan murah.

Namun, Muhammad, seorang mahasiswa Offshore Engineering TU Delf yang saat ini bekerja di Kementerian Kelautan dan Perikanan menuturkan biaya investasi energi laut 500 – 1.000 dolar AS per kW sedangkan harga per kWh sebesar 0,045 – 0,09 dolar AS. Tentu jika nilai ini benar peluang investasi untuk pengembangan OTEC di Indonesia dapat dilakukan.

Bagaimanapun, pengembangan skala besar, antara 50-100 MW akan memberikan nilai keekonomian yang lebih tinggi disbanding pengembangan skala kecil.

Benefit Lingkungan dan “Produk Samping” Teknologi OTEC

Sebagai sumber energy terbarukan dan ramah lingkungan, penggunaan OTEC mengurangi dampak buruk penggunaan energy fosil seperti pembukaan lahan untuk ekploitasi, emisi gas buang bahan bakar fosil dan limbah lain yang dihasilkan, dan secara ekologi berdampak positif karena akan memperkaya nutrisi pada permukaan air laut. Namun begitu, belum ada analisa komprehensif dampak pengembangan fasilitas OTEC terhadap lingkungan.

Walaupun biaya investasi awal OTEC masih dipandang terlalu mahal, namun riset termutakhir menunjukkan berbagai potensi produk samping OTEC yang bermanfaat, sehingga dapat meningkatkan nilai ke-ekonomian dari teknologi OTEC. “Produk Samping” dari OTEC tersebut antara lain :

  1. Pendingin suhu permukaan. Konsepnya adalah residu air dingin yang dipompakan dari dasar laut dapat digunakan untuk mendinginkan suhu permukaan dan mengurangi efek pemanasan global, apalagi suhu daerah tropis yang panas. Aplikasinya bisa bermacam-macam, mulai dari penggunaan sebagai air conditioner pemukiman warga, dapat juga sebagai aplikasi pertanian dan perikanan, sehingga dimungkinkan pembudidayaan produk yang membutuhkan suhu sejuk dalam proses pembudidayaannya. Selain itu dapat dikurangi efek buruk naiknya temperatur permukaan seperti badai.
  2. Air tawar. Air tawar yang dihasilkan dari proses vaporisasi dan kondensasi dapat digunakan sebagai konsumsi atau irigasi pertanian terutama untuk pulau kecil sekitar fasilitas yang sulit mendapat akses air tawar.
  3. Nutrisi air laut dalam. Air laut dalam kaya akan nutrient dan rendah pathogen, sehingga sangat baik untuk budidaya organisme laut.

Potensi Pengembangan OTEC di Indonesia

Indonesia adalah negara kepulauan yang terletak di daerah tropis, di mana perairan di wilayah Indonesia umumnya memiliki perbedaan suhu air permukaan dan laut dalam yang sangat tinggi, serta memiliki intensitas gelombang laut dan kemungkinan badai yang kecil, sehingga sangat cocok dalam pengembangan teknologi OTEC. potensi panas yang dihasilkan panas laut sebesar 2,5 x 1023 joule dengan efisiensi listrik 3 persen atau hampir setara 240.000 MW.

Image

Perbedaan temperatur antara permukaan dan dasar laut

Selain itu, demografi masyarakat yang tinggal di pulau-pulau kecil atau daerah pesisir terpencil masih belum tersentuh pengembangan infrastruktur listrik, yang memang sulit mengembangkan pembangkit di daerah seperti itu. Dengan pengembangan infrasturktur dan hasil sampingannya seperti ini, diharapkan pembangunan bangsa juga dirasakan di daerah rural, dengan lebih merata.

Tipikal laut Indonesia dalam dan mempunyai perbedaan temperatur tinggi . Sehingga OTEC dapat dikembangkan di daerah selatan Pulau Sumatra, Jawa, dan Bali untuk pengembangan dengan pasar yang besar dan hampir di seluruh kepulauan daerah Indonesia tengah dan timur untuk menjangkau daerah rural dengan pasar yang kecil.

Beberapa pihak swasta di Indonesia sebenarnya telah mengembangkan teknologi ini hingga mencapai tahap komersial, namun jumlahnya masih terbatas sehingga pemanfaatan teknologi ini belum memberikan andil yang besar. Di samping itu perlu adanya perhatian dan keterlibatan dari pemerintah yang besar untuk pengembangan dan pemanfaatan energi alternatif dari laut tersebut, sebagai salah satu upaya menghadapi krisis energi yang terjadi di masa kini.

Satu kendala lagi adalah ketergantungan terhadap pembangkit listrik berbahan bakar fosil. Bahkan untuk konversi BBM atau batubara ke gas alam, yang cadangan dan potensinya besar di Negara ini, itupun membutuhkan proses lama, dan masih besar keengganan untuk mengembangkan pembangkit energi terbarukan. Solusinya memang masih subsidi, dan subsidi sangat besar kaitannya dengan kebijakan, yang kemungkinan tiap 5 tahun bisa berganti.

Image

Saat Porsi Expatriate Berlebih di Suatu Perusahaan Migas

April 5, 2013

Jumat 5 April 2013

Orbolan jumat siang kali ini membahas expatriate KKKS (kontraktor kerjasama minyak dan gas bumi) multinasional yang beroperasi di Indonesia, kebetulan sedang ada narasumber drillling engineer dari KKKS asing. Bukan rahasia KKKS multinasional menempatkan ekspat dalam porsi berlebih. Untuk kasus lapangan yang tak mempunyai kesulitan tinggi seharusnya pelaksanaan tata kelolanya diserahkan pada orang lokal. Karena fungsi ekspat disini adalah sebagai “tenaga bantuan ahli”. Dalam PSC filosofinya, lahan dikerjakan sendiri, dan minta bantuan asing bila ada kekurangan dalam kapital, teknologi, dan manajemen resiko. Tidak bisa dipungkiri, keberadaan mereka masih dibutuhkan perusahaan, hanya yang perlu ditegaskan pengaturannya adalah pada porsinya.

Komentar mas-mas dari KKKS, “Di lapangan kadang perusahaan bawa banyak KNIL (baca: bule), padahal ga butuh banyak, dan orang kita sebenarnya bisa. Secara manajemen itu namanya pemborosan. Gaji mereka 10 kali orang lokal. Kenapa nggak latih aja ini orang lokal, gajinya lebih murah kan. Memang ada maen diantara mereka itu.” Sangat berapi-api mas ini. Pembicaraan mas ini memang diarahkan menuju nasionalisme, isu dasar ekspat-nasional.

Terkadang kerja expatriate ini hanya sebagai penghubung dengan pusat, menemui masalah, lalu email ke pusat, jam 4 pulang, besok pagi buka email, dan bangg didapat keputusan. Sungguh tidak efisien. Atau penugasan sebagai mentor, padahal baru beberapa bulan di sini, engineer lokal yang sudah bertahun-tahun bekerja merasa tak ada tutorial dari bule ini. Spekulasi kasarnya pasti perusahaan asing ya sebanyak-banyaknya ngeruk penghasilan, tidak hanya dari cadangan minyak, bisa dari devisa yang dimasukkan dari gaji warga negaranya yang dipekerjakan, atau penggunaan alat-alat atau bahkan makanan minuman yang berasal dari negaranya. Seperti kata company-man senior, “bule itu nggak semua lebih pinter dari kita kok, yang pasti mereka lebih kenceng teriaknya kalo di lapangan”.

Sebenarnya keputusan memakai bule atau tidak ada di fungsi teknis perusahaan, pihak SDM hanya merekomendasikan nama. Kuncinya adalah di teknis ini, tinggal dia membawa kepentingan yang mana. Kasusnya sama dengan hubungan SKK Migas dengan KKKS, fungsi teknislah yang memutuskan. Yang parah, jika tidak disetujui maka proyek tidak bisa jalan, ini merugikan tentu, tentu teknis yang akan disalahkan. Pihak KKKS bisa melakukan push disini, maka jadilah pihak teknis kalah, dan mau tidak mau menyetujui agar proyeknya berjalan, apalagi dengan mindset “maksimalkan lifting”.

Indonesia vs Saudi Arabia: Awal Baru Reuni Timnas

Maret 27, 2013

Sabtu, 23 Maret 2013

source: firdapuriagustine.blogspot.com

Stadion Gelora Bung Karno, hari pertandingan timnas Indonesia vs Saudi Arabia. Lalu apa yang spesial dari hari ini? Boleh dibilang hari ini adalah renaisans timnas, setelah masa dua tahun pecah buyar karena masalah kepengurusan PSSI, biasa maen kepentingan. Lawan arab jelas supporter bukan rindu juara, lebih sederhana, para supporter rindu timnas, timnas yang sesungguhnya. Langkah pertama om Roy Suryo untuk mengkondusifkan sepakbola terlihat disini, yang langsung diapresiasi seisi stadion ketika beliau turun ke lapangan. Alhasil tiket kembali ludes, stadion kembali penuh, nggak sesesak pas lawan Malaysia di final AFF dua taun lalu, tapi kira-kira 70-80 ribuan manusia berbaju merah ada di dalam stadion. Meskipun kalah, standing ovation penonton tetap membahana di stadion, yang dikira pak pelatih arab saudi itu karena salut untuk tim beliau, hihihi. Tiga momen yang saya sukai di pertandingan ini, Menyanyikan lagu Indonesia Raya, Puluhan petasan yang dinyalakan dari tribun atas bersamaan saat gol Boaz (eh, apa saat kapan ya lupa), dan standing ovation saat pertandingan berakhir.

Well suasana stadion kembali seperti dulu, riuh nyanyi penonton, olok-olok dan boo-ing terhadap tim lawan, puluhan petasan yang entah mengapa bisa lolos dari pemeriksaan yang membuat suasana stadion cem di Italy, dan berkibaran atribut spanduk dan bendera macem-macem (merah-putih, kedaerahan, sampe nama geng), walaupun, hujan tak mau berhenti untuk menambah ikut menambah panas atmosfer. Yang negatif juga kembali, biasa intimidasi “kurang sehat” sama pendukung arab, penonton yang merasa dewa dan merasa lebih bisa dari pemain dan pelatihnya, dan tentu saja, calo.

Lalu pertanyaannya apakah benar, sekarang timnas sudah bebas dari konflik kepentingan? Apa saja yang janggal, yang menarik untuk dianggap sebagai konspirasi-konspirasian? Pertama, pelatih, duo RD dan Jacksen F Tiago menjadi pelatif sementara selagi di non-aktifkannya coach Manuel Blanko. Kedua, Pengumuman pemain yang hanya hamin beberapa jam sebelum kick-off. Ketiga, yang agak urusan keroco, tiket yang dijual hari-H, mepet sekali.

Semula berawal dari hasil KLB PSSI, yang berhasil menyatukan liga ke depannya, yang boleh dibilang kubu KPSI kembali masuk, entah itu positif atau malah menggerogoti reformasi, intinya pihak PSSI berkuasa melunak. Isunya sih ada bagi-bagi kekuasaan partai X dan partai Y, yang X megang liga yang Y megang timnas. Begitu kesepakatannya, win-win solution.

Kasus pertama, masalah pelatih. Ceritanya partai Y tiba-tiba diserobot partai X dari hak mengelola timnas, sang pelatif Blanco dibekukan karena asal mencoret pemain, alhasil partai yang sigak memasukkan duo pelatif itu sebagai pelatif sementara. Hal ini juga bisa berdampak pada pemain yang dipilih. Lihat saja komposisi pemain dari LSI dan LPI, tapi di atas kertas memang kualitas liga yang satu lebih mumpuni.

Mungkin untuk menghindari spekulasi luas pada massa, nama pemain pengisi line-up baru diumumkan mendadak, sebagai kejutan katanya, bisa untuk meredam orang yang kritis karena udah fokus teriak-teriak mendukung. Dari sini kalo pemain timnas perwakilan liga A ini maen bagus bahkan kalo bias menang tentu dukungan rakyat terhadap liga A ini makin saja naik. Tapi karena kalah ya mau bagaimana lagi, sepertinya doanya orang Indonesia kena Jamming di ka’bah sana, kayak sinyal hape yang diacak-acak di dalem stadion malem itu.

Ketiga soal tiket. Permasalahan standar, tiket yang dibuka hari sabtu pagi karena alasan mepet persiapan membuka peluang calo untuk memulai menjual dari hari jumat, tentu bukan di kantor PSSI-nya, tapi ada. Soal calo yang melibatkan orang dalam ini tentu permainan lama, dan tradisi ini masih saja ingin diteruskan tentu. Ada isu juga tentang bonus pemain yang “tertahan”, entah karena apa dan bagaimana kelanjutannya.

Nah, racauan di atas tentu juga jangan diambil mentah-mentah, jelas sudah tanpa data, hanya untuk meresahkan saja supaya enggak statis. Namanya juga konspirasi-konpirasian kan, itu yang beredar dari dunia maya, yang tentu tidak bias dijadikan referensi karya ilmiah kan.